NabiyullahDawud (دَاؤُوْد) 'alaihissalam adalah seorang Nabi yang diangkat sebagai raja bagi Bani Israil. Beliau adalah seorang Rasul pilihan yang diberi Kitab Zabur. Nabi Dawud merupakan keturunan Yahuda bin Yaqub 'alaihissalam dan pernah mengalahkan raja zalim bernama Jalut. Ketika wafat, Beliau dimakamkan di Baitul Maqdis Palestina dan kerajaannya digantikan putranya Nabi Sulaiman AS.
kisahnabi sholeh AS dan kaumnya. Artinya : 61. Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi
Periodekenabian Zakariya sangat dekat dengat dengan Nabi Isa 'alaihissalam. Beliau diutus sebagai Nabi untuk berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Namanya disebut 8 kali di dalam Al-Qur'an Al-Karim. Kisah Nabi Zakariya dalam Al-Qur'an diabadikan dalam Surah Maryam ayat 1-15. Beliau memiliki seorang anak dan wafat di negeri Syam.
Kisah nabi Yahya Alaihissalam memberikan banyak hikmah yang bisa dipetik oleh para pembaca atau pendengarnya.. Nabi dan rasul sendiri merupakan salah satu hal yang keberadaannya wajib diimani oleh umat muslim, termasuk Nabi Yahya. Pada kesempatan ini, akan dijelaskan secara lengkap mengenai kisah hidup nabi Yahya.
Yusuf 25) Terhadap tuduhan itu Nabi Yusuf segera membela diri dan berkata, "Dialah yang merayu diriku.". Maka suaminya meminta penyelesaian kepada salah seorang keluarganya, lalu aggota keluarga itu berkata tanpa ragu, "Lihatlah! Jika baju gamisnya koyak di depan, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.-.
Beberapapelajaran penting dari kisah Nabi Hud Sebagaimana juga dalam kisah Nabi Nuh, di dalam kisah ini terdapat beberapa faedah yang sama pada semua rasul. Faedah-faedah itu antara lain: 1. Allah Ta'ala dengan hikmah-Nya mengisahkan kepada kita berita umat-umat yang bertetangga dengan kita di Jazirah Arab dan sekitarnya.
. Suatu saat, Raja Nebukadnezar[1] datang ke Baitul Maqdis dari negeri Syam. Dia membunuh orang-orang Bani Israil dan merebut secara paksa kota Baitul Maqdis serta menawan banyak orang dari mereka. Di antara mereka yang ditawan adalah Nabi DanialSebelumnya, Raja ini didatangi oleh para ahli nujum peramal dan orang-orang cendekia saat itu. Mereka mengatakan kepadanya, “pada malam ini dan ini, akan dilahirkan seorang bayi yang nantinya akan menghinakan dan menghancurkan kerajaanmu.”Maka Raja itu bersumpah, “Demi Allah, tak ada seorang bayi pun yang lahir pada malam itu kecuali akan aku bunuh.” Maka mereka membunuh semua bayi yang lahir kecuali Danial; mereka membawa dan membuangnya ke hutan yang terdapat singa di dalamnya. Maka ada singa jantan dan singa betina yang mendekatinya, dan keduanya hanya menjilati Danial dan tidak datanglah ibu Danial, dan dia mendapatkan dua singa itu sedang menjilatinya, lalu Allah pun menyelamatkannya. Para cendekiawan daerah itu berkata, “Maka Danial mengukir pada batu cincinnya gambar dirinya beserta dua singa itu yang sedang menjilatinya, agar dia tidak lupa akan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya itu.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dengan sanad hasan.Dalam redaksi riwayat lain disebutkanJauh setelah Nabi Musa meninggal dunia, ada seorang nabi pada masa Bani Israil yang dipanggil Danial alaihissalam. Dia didustakan oleh kaumnya, bahkan akhirnya dia diciduk oleh raja yang berkuasa saat itu dan dilemparkan ke hadapan beberapa ekor singa yang sengaja dibuat lapar di dalam sebuah Allah ta’ala melihat bagusnya tawakalnya dan kesabarannya demi menuntut sesuatu yang ada di sisiNya, maka Allah mencegah mulut-mulut singa itu untuk memangsanya bahkan sampai Danial berdiri dengan kedua kakinya di atas kepala singa-singa yang sudah tunduk dan tidak lagi membahayakan itu. Kemudian Allah ta’ala mengirim Irmiya dari Syam sehingga Danial dapat terbebas dari kesulitan ini dan menumpas orang yang ingin membinasakan Abdullah bin Abi al-Hudail, dia berkata, “Nebukadnezar telah melatih dua singa untuk berburu dan meletakkannya di dalam sebuah sumur. Kemudian dia menggiring Danial dan melemparkannya pada binatang tersebut. Tetapi kedua singa itu tidak menerkamnya. Maka Danial tinggal di dalam sumur dalam jangka waktu yang dikehendaki Allah. Lalu dia ingin makan clan minum sebagaimana manusia lainnya. Maka Allah ta’ala memerintahkan melalui wahyu kepada Irmiya[3] yang saat itu berada di Syam, untuk menyediakan makanan dan minuman untuk Danial. Maka dia berkata, Ya Rabbi, aku sekarang berada di tanah suci Baitul Maqdis, sementara Danial berada di kota Babilonia di tanah Irak.’ Lalu Allah mewahyukan lagi kepadanya, Siapkanlah apa yang telah Aku perintahkan kepadamu; karena Aku akan kirim utusan yang akan membawamu ke sana beserta apa yang kau persiapkan.’ Akhirnya Yeremia pun melaksanakan perintah tersebut dan Allah mengirim utusan yang membawanya serta makanan yang dipersiapkannya, hingga dia sampai di depan mulut sumur tersebut. Lalu Danial berkata, Siapa ini?’Yeremia menjawab, Aku Irmiya.’Danial berkata, Kenapa kau datang kemari?’Irmiya menjawab, Aku diutus oleh Tuhanmu untuk menemuimu.’Danial berkata, “Apakah Dia menyebut namaku?” Irmiya menjawab, Ya.’Danial berkata, Segala puji bagi Allah yang tidak melupakan orang yang mengingatNya. Segala puji bagi Allah yang tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadaNya. Segala puji bagi Allah yang barangsiapa bertawakal kepadaNya, niscaya Dia akan memberi kecukupan kepadanya. Segala puji bagi Allah yang barangsiapa menaruh kepercayaan penuh kepadaNya, niscaya tidak akan Dia pasrahkan urusannya pada yang lain. Segala puji bagi Allah yang telah membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas keburukan dengan ampunan. Segala puji bagi Allah yang telah membalas kesabaran dengan keselamatan. Segala puji bagi Allah yang telah menyingkap kesulitan kita setelah ditimpa musibah. Segala puji bagi Allah, Dia-lah yang kami percayai, ketika kami berprasangka buruk atas amalan-amalan kami. Segala puji bagi Allah, Dia-lah harapan kami, ketika semua cara tertutup di hadapan kami.”Foot Note[1] Nebukadnezar 604-561 SM, Raja Babilonia, dia menyerang Mesir, menaklukkan kota Yerussalem al-Quds, dan membakarnya, serta menampung keluarga Judas di Babilonia al-Munjid.Sumber
Daniel bahasa Ibrani דָּנִיּאֵל, Daniyyel Tiberias Dāniyyêl ; “Allah adalah hakimku”; bahasa Arab دانيال, Dâniyal atau Danial adalah seorang nabi dari Bani Israel, yang dikenal dalam ajaran agama Yahudi dan Kristen, terutama dicatat dalam Kitab Daniel di Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Dalam ajaran Islam ia tidak termasuk salah satu dari 25 nabi yang wajib diketahui, namun demikian ahli sejarah mengatakan bahwa ia termasuk nabi yang pernah hidup dan meninggal di Mesir. Ia dikatakan masih keturunan dari Nabi Dawud AS. Daniel hidup di masa pembuangan bangsa Israel dari Kerajaan Yehuda ke Babilonia. Pada tahun yang ke-3 pemerintahan Yoyakim raja Yehuda datanglah Nebukadnezar, raja Babilonia, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim raja Yehuda dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear. Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangSAWan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja. Imam ats-Tsa’laby sebagaimana dikutip oleh Muhammad bin Iyas Abul Barakat al-Hifny dalam bukunya Bada’iuz Zuhur fi Waqai’ ad-Duhur menuturkan, bahwa raja Babilonia yang terkenal jahatnya. Nebukadnezar sendiri termasuk keturunan Yafuts dan Yafuts adalah putra Nabi Nuh as. Dalam sejarahnya, Nebukadnezar seorang raja yang sangat kejam. Tidak ada satupun laki-laki Bani Israil yang hidup melainkan dibunuhnya. Anak-anak dipisahkan dari orang tuanya dan dilatih untuk perang sebagian dipenjara. Suatu saat Nebukadnezar menawan banyak masyarakat, termasuk anak-anak. Di antara yang ditawan itu ada seorang anak-anak bernama Nabi Daniel. Ia ditawan dan dipenjarakan bersama dengan keturunan Nabi Ya’kub dan Nabi Yusuf AS. Suatu hari Nebukadnezar bermimpi dengan mimpi yang sangat mengejutkan dan mengagetkannya. Ia bertanya kepada para dukun dan juru ramal saat itu, akan tetapi semuanya diam, tidak dapat mengartikan mimpinya tadi. Lalu datanglah seorang laki-laki yang pernah dipenjara bersama Nabi Daniel yang mengabarkan kepada Nebukadnezar bahwa di dalam penjara ada seorang pemuda yang pandai menafsirkan mimpi. Dia adalah Nabi Daniel. Di panggilah Nabi Daniel untuk menakbirkan mimpinya itu. Nabi Daniel dengan sangat jelas mengartikan mimpi Nebukadnezar tadi. Nebukadnezar pun kagum akan kehebatan Nabi Daniel. Nabi Daniel kemudian dibebaskan dari penjara dan dijadikan konsultan sekaligus guru pribadi Nebukadnezar. Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama 3 tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka Kedekatan antara Nebukadnezar dengan Nabi Daniel ini membuat petinggi Majusi geram. Mereka kemudian merencanakan sebuah makar untuk membunuh Nabi Daniel. Digalilah sebuah lobang besar, kemudian Nabi Daniel dimasukkan ke dalamnya bersamaan dengan binatang-binatang buas dan berbisa. Namun, setelah beberapa hari lamanya Nabi Daniel berada di lobang tersebut, Nebukadnezar mendapatkan Nabi Daniel dalam keadaan sehat tidak kurang sedikitpun. Setelah Raja Nebukadnezar meninggal, Abul Barakat al-Hifny kemudian menuturkan, Nabi Daniel kemudian berangkat menuju kota Iskandariyah, dan menghabiskan sisa-sisa hidupnya untuk berdakwah di sana, bahkan meninggal dan kuburannya pun di sana. Menurut ahli sejarah Islam, kuburan Daniel, ditemukan pada masa Khalifah Umar bin itu ketika Iskandariyah berhasil dilumpuhkan oleh Amr bin Ash pada tahun 641 Masehi, Amr dan para tentara melihat ada tempat bersembunyi yang dikunci dengan gembok besi. Kemudian mereka membukanya, dan ternyata di dalamnya ada lobang kecil yang ditutup dengan marmer berwarna hijau yang ditutup dengan marmer berwarna hijau lainnya. Ketika dibuka, ternyata di dalamnya ada jenazah seorang laki-laki dengan kain kafan yang ditenun dengan benang emas, dan memiliki badan yang sangat besar. Kejadian itu dilaporkan kepada Khalifah Umar, dan Umar segera bertanya kepada Ali bin Abi Thalib. Ali kemudian menjawab bahwa jenazah tersebut adalah jenazah Nabi Daniel. Umar segera memerintahkan Amr bin Ash untuk mengkafani kembali jenazah tadi, dan meminta untuk dikuburkan disebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang. Amr bin Ash lalu membuatkan kuburannya lagi di kota Iskandariyah yang saat ini di atasnya dibangun sebuah mesjid yang diberi nama, Masjid Nabi Daniel. Catatan kitab-kitabnya ditemukan di dalam gua di Laut Mati di antara Naskah Laut Mati bersama dengan catatan nabi-nabi yang lainnya. Nubuatnya dimulai dari Kitab Daniel pasal ke-7 sampai 12. Seluruh nubuatannya adalah tentang akhir zaman, berbeda dengan Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel yang banyak bernubuat tentang kedatangan Mesias, meskipun juga menyangkut akhir zaman. Daniel diberi penglihatan wahyu oleh Tuhan tentang apa yang terjadi pada sejarah dunia. Inti nubuat yang ia dapatkan adalah berupa akan ada sejumlah peristiwa besar yang terjadi menjelang akhir zaman, termasuk kedatangan Mesias, sampai dengan tibanya akhir zaman. Nubuatan Nabi Daniel Tentang Islam Didalam kitab Nabi Daniel dapat kita menjumpainya pada pasal 2 ayat 44-45 “Maka pada zaman raja-raja oleh Allah di surga, akan diadakan suatu kerajaan, yang pada selama-lamanya tiada dapat dibinasakan. Maka kerajaan itu tiada kuserahkan kepada salah satu bangsa lain, dan dia itupun akan menghancurkan dan meniadakan segala kerajaan itu, tetapi ia sendiri akan kekal sampai selama-lamanya. Maka itulah sebabnya, tuanku melihat sebuah batu gunung gugur dengan sendirinya dengan tiada tulungan tangan, lalu dihancur luluhkannya besi dan tembaga, dan tanah liat, dan perak dan emas. Bahwa Allah ta’ala sudah memaklumkan kepada tuanku, barang yang akan jadi pada kemudian hari, bahwa sesungguhnya inilah mimpi tuanku itu, dan tentulah takbirnya” Umumnya bapa-bapa Gereja dan Ulama-ulama Islam hampir sepaham bahwa kerajaan besar yang menggantikan kerajaan Babilonia, menguasai daerah-daerah bebas kekuasaannya di timur tengah ialah Persia, kemudian Macedonia, Assyria, kemudian Romawi. Tetapi terjadi perbedaan paham diantara mereka ketika mentafsirkan kerajaan kelima yang berupa “Campuran besi dan tanah liat” merupakan “Kerajaan keenam” sebagai kerajaan penutup berupa “Batu gunung” yang menghancurkan kerajaan-kerajaan yang lain yang datang sebelumnya. Pemimpin-pemimpin Gereja bersikeras menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan batu gunung ialah kerajaan Kristus. Tetapi harus diingat, bahwa kerajaan Kristus sudah 16 abad lamanya mereka tunggu-tunggu, atau mungkin sudah 20 abad lamanya belum juga datang. Siapakah kerajaan yang “lain daripada kerajaan terdahulunya” yang telah muncul sesudah kejatuhan Romawi dan Persia? Sejarah tidak sungkan-sungkan menjawab sebagai Kerajaan Islam. Jikalau pada tahun 426 M kerajaan Romawi Barat telah runtuh sebelum datangnya Islam, maka pada sekitar tahun 612 M bangkitlah kerajaan Islam dan mulai mengembangkan sayapnya dari Maghribi Maroko Jabal El Tarik di Spanyol sampai ke timur Pasai, bahkan Demak dan Rembang di Indonesia. Tentaranya bagaikan badai taupan mengamuk menghancurkan kerajaan kafir terdahulunya, sehingga lenyaplah mereka seperti “debu yang diterbangkan angin.” Lalu, apakah umat muslim pantas menyebut Daniel sebagai nabi? Dari uraian diatas ada dua kemungkinan sejarah hidup Daniel yaitu diantara Isa sebelum kehadiran Muhammad SAW yang jelas disebutkan bahwa tak ada Nabi diantara waktu tersebut. Kemudian ungkapan Anas bin Malik mengatakan bahwa memprediksikan Daniel merupakan seorang Nabi kuno jauh sebelum periode Isa. Tapi saya sebagai penulis akan menyebutnya sebagai Orang Suci karena belum ada kejelasan tentangnya. Dan kebenaran makam nabi Daniel di Iran masih menjadi pertanyaan besar bagi sebagian umat Muslim.
Salah satu Nabi yang diutus kepada Bani Israil adalah Nabi Daniel[1]. Jasad Nabi Daniel ditemukan oleh sahabat Abu Musa Al-Asy’ari ketika berjihad melawan bangsa Tartar di daerah Hurmuzan. Jasad Nabi Daniel ditemukan di Baitul Mal Hurmuzan dan penduduk Hurmuzan menjelaskan bahwa jasad tersebut telah meninggal 300 tahun yang lalu. Akan tetapi, jasadnya masih utuh dan tidak membusuk sedikit pun. Lalu, Abu Musa Al-Asy’ari mengirim surat kepada Umar bin Khattab sebagai khalifah saat itu. Umar bin Khattab menjelaskan bahwa itu adalah jasad Nabi Daniel dan memerintahkan untuk MENYEMBUNYIKAN oleh Ibnu Abi Syaibah, dari sahabat Anas,عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُمْ لَمَّا فَتَحُوا تُسْتَرَ قَالَ ” فَوَجَدَ رَجُلًا أَنْفُهُ ذِرَاعٌ فِي التَّابُوتِ , كَانُوا يَسْتَظْهِرُونَ وَيَسْتَمْطِرُونَ بِهِ , فَكَتَبَ أَبُو مُوسَى إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِذَلِكَ , فَكَتَبَ عُمَرُ إِنَّ هَذَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالنَّارُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , وَالْأَرْضُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , فَكَتَبَ أَنِ انْظُرْ أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ يَعْنِي أَصْحَابَ أَبِي مُوسَى فَادْفِنُوهُ فِي مَكَانٍ لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ غَيْرُكُمَا قَالَ فَذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو مُوسَى فَدَفَنَّاهُDari Anas, “Tatkala mereka Abu Musa Al-Asy’Ari menaklukan tustur, mereka menemukan jasad seseorang yang hidungnya panjang. Penduduk Hurmuzan ber-isti’anah minta bantuan dan meminta hujan dengan perantara jasad tersebut. Abu Musa segera menulis surat kepada Umar bin Khattab. Umar membalas surat, Sesungguhnya ini jasad tersebut adalah Nabi di antara para nabi. Api tidak akan membakar jasad para nabi dan bumi tidak akan merusaknya. Hendaklah engkau dan salah seorang sahabatmu menguburkannya di tempat yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali kalian berdua’. Kemudian aku dan Abu Musa pergi untuk menguburkannya.” [2]Cara menyembunyikan kubur beliau dengan cara pada siang hari para sahabat mengali 13 lubang kubur. Lalu, menguburkannya pada salah satu lubang di malam hari sehingga tidak ada yang mengetahui di mana kubur oleh Al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah, “Dari Khalid bin Dinar dari Abu Aliyah,قُلْتُ فَمَا صَنَعْتُمْ بِالرَّجُلِ؟ قَالَ ” حَفَرْنَا بِالنَّهَارِ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَبْرًا مُتَفَرِّقَةً، فَلَمَّا كَانَ فِي اللَّيْلِ دَفَنَّاهُ وَسَوَّيْنَا الْقُبُورَ كُلَّهَا، لِنُعَمِّيَهُ عَلَى النَّاسِ لَا يَنْبُشُونَهُ“Aku berkata kepada Abu Aliyah, Apa yang kalian lakukan pada jasad Nabi tersebut?’. Abu Aliyah berkata, Pada siang hari kami menggali di sungai airnya dibendung sementara sebanyak 13 lubang kubur yang terpisah-pisah. Pada saat malam hari, kami menguburkannya dan kami ratakan semua kubur tersebut agar manusia tidak mengetahui dan tidak menggalinya kembali.’”[3]Ahli sejarah Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa jasad tersebut adalah Nabi Daniel karena bisa diperkirakan dari waktu kematiannya dan khabar mengenai kapan masa قَرِيبٌ مِنْ وَقْتِ دَانْيَالَ ، إِنْ كَانَ كَوْنُهُ دَانْيَالَ هُوَ الْمُطَابِقَ لِمَا فِي نَفْسِ الْأَمْرِ“Waktunya dekat dengan waktu kehidupan Nabi Daniel. Apabila itu adalah Nabi Daniel, maka ini sesuai dengan perkaranya lama meninggal dan waktu ditemukan jasadnya.”[4]Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa Umar bin Khattab menulis surat kepada Abu Musa dan Umar berkata,إذَا كَانَ بِالنَّهَارِ فَاحْفِرْ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَبْرًا، ثُمَّ ادْفِنْهُ بِاللَّيْلِ فِي وَاحِدٍ مِنْهَا، وَعَفِّرْ قَبْرَهُ، لِئَلَّا يَفْتَتِنَ بِهِ النَّاسُ “Pada siang hari, galilah 13 lubang kubur. Kemudian kuburkanlah pada malam hari pada salah satu lubang tersebut. Sembunyikan kuburnya agar tidak menjadi fitnah disembah-sembah dan dikeramatkan oleh manusia.”[5][su_spacer]Dari kisah ini mengandung beberapa faedah1. Kuatnya tauhid pada sahabat dan mereka sangat khawatir manusia terjatuh dalam kesyirikan yang merupakan dosa paling besar dan paling dilarang dalam agama.[6]2. Salah satu sumber kesyirikan adalah ghuluw berlebih-lebihan terhadap nabi dan orang saleh sehingga akhirnya dikultuskan, dikeramatkan bahkan dianggap tuhan.[7]3. Para sahabat telah paham bahwa sejarah pertama kesyirikan di muka bumi adalah pada zaman Nabi Nuh. Patung berhala mereka adalah patung orang-orang saleh sebelum mereka, lalu disembah.[8]4. Para sahabat sangat paham bahwa telah banyak kubur Nabi yang disembah dan dikultuskan oleh manusia sehinggga mereka mencegahnya.[9]5. Kuburan bukan tempat ibadah. Ziarah kubur hukumnya sunnah dengan tujuan mengingat mati dan mendoakan si semoga bermanfaatBaca Juga Yahudi Bukan Israel—Yogyakarta TercintaPenyusun Raehanul BahraenArtikel kaki[1] Banyak mengambil faidah dari HR. Ibnu Abi Syaibah 4/7 dengan sanad sahih[3] Al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah 1/381[4] Al-Bidayah wan Nihayah 2/40[5] Majmu’ Fatawa 15/154[6] silahkan baca tulisan kami silahkan baca tulisan kami silahkan baca silahkan baca tulisan kami
Dalam Islam nama Nabi Daniel termasuk jarang terdengar bahkan banyak muslim yang tidak mengetahui. Ternyata, ada Nabi utusan Allah yang bernama Daniel. Hal ini dikarenakan Nabi Daniel bukan salah satu nabi yang namaya wajib diketahui oleh umat Islam. Namun, jika melihat sisi sejarahnya Nabi Daniel merupakan seorang utusan Allah yang pernah hidup di Mesir. Beliau merupakan salah satu dari keturunan Nabi Daud. Selain itu, Nabi Daniel juga dikenal sebagai seorang nabi dari Bani Israel, yang dikenal dalam ajaran agama Yahudi dan Kristen, terutama dicatat dalam Kitab Daniel di Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Daniel hidup di masa pembuangan bangsa Israel dari Kerajaan Yahuda ke Babilonia. Pada tahun yang ke-3 pemerintahan Yoyakim raja Yehuda di Yerusalem, saat itu datanglah Nebukadnezar yang merupakan raja Babilonia yang bertujuan untuk mengepung kota itu. Nebukadnezar merupakan seorang raja yang terkenal sangat kejam. Tidak ada satupun laki-laki Bani Israil yang hidup melainkan mengalami nasib mati dibunuh. Anak-anak dipisahkan dari orang tuanya dan dilatih untuk mengabdikan diri untuk sang raja. Bagi anak yang memiliki keistimewaan ataupun kecerdasan mereka disaring untuk dapat mengabdikan kepintarannya kepada raja, dan di antara mereka ada Nabi Daniel. Ia ditawan dan dipenjarakan bersama dengan keturunan Nabi Ya’kub dan Nabi hari sang Raja Nebukadnezar melihat sebuah patung raksasa. Patung itu berkepala emas, lengannya dari perak, tubuhnya dari tembaga, dan kakinya dari besi. Namun patung itu hancur berserakan hanya karena sebuah batu. Sang raja pun penasaran dengan mimpinya. Maka ia bertanya kepada peramal yang ada di kotanya, akan tetapi semua peramat dikotanya tak satupun mampu mengartikan mimpinya. Lalu ada seorang pemuda yang sempat berada di penjara bersama Daniel mengabarkan kepada Nebukadnezar bahwa Daniel mampu menafsirkan mimpi. Maka dipanggillah Daniel untuk menafsirkan mimpinya. Daniel kemudian menafsirkan mimpi sang raja bahwasanya patung itu merupakan tanda penguasa yang akan silih berganti. Emas merupakan Babilonia yang kemudian akan hancur digantikan Kerajaan Persia sebagai perak, lalu Kerajaan Yunani sebagai tembaga, dan Kekaisaran Romawi sebagai besi. Namun seluruh penguasa itu akan berakhir dengan kehancuran. Daniel sangat jelas mengartikan mimpi Nebukadnezar, karena kepiawaiannya maka sang rajapun dibuat kagum akan kehebatan Nabi Daniel. Nabi Daniel kemudian dibebaskan dari penjara dan dijadikan konsultan sekaligus guru pribadi Nebukadnezar. Kedekatan antara Nebukadnezar dengan Nabi Daniel ini membuat petinggi Majusi geram. Mereka kemudian merencanakan sebuah makar untuk membunuh Nabi Daniel. Maka menyusun siasat supaya Daniel duhukum oleh sang para petinggi Majusi tidak menemukan celah kesalahan dari Daniel. Namun, mereka mengetahui bahwa Daniel merupakan seorang hamba yang taat kepada Tuhan yang berbeda dengan kaum di kota tersebut. Karena perbedaan itulah petinggi Majusi mulai menghasut sang raja karena Daniel dirasa tidak menghormati para dewa-dewa yang di sembah oleh mereka. Karena itu sang rajapun akhirnya merasa geram. Maka merekapun memikirkan hukuman yang setimpal bagi seorang pembangkang. Maka digalilah sebuah lobang besar, kemudian Nabi Daniel dimasukkan ke dalamnya bersamaan dengan kawanan singa yang sedang kelaparan. Namun, kuasa Allah, setelah beberapa hari lamanya Daniel berada di lobang tersebut, ternyata beliau dalam keadaan sehat dan utuh. Setelah kerajaan dalam keadaan tenang kembali, Nabi Danielpun mencari cara agar ia dapat keluar dari lubang tersebut. Karena pertolongan Allah, Beliaupun mampu memanjat lubang berisi singa tersebut. Nabi Daniel memutuskan untuk menuju daerah Hurmuzan, dan menghabiskan sisa-sisa hidupnya untuk berdakwah di sana hingga beliau meninggal dunia di sana. Jasad Nabi Daniel ditemukan oleh sahabat Abu Musa Al-Asy’ariy ketika berjihad melawan bangsa Tartar di daerah Hurmuzan. Jasad nabi Daniel ditemukan di baitul mal Hurmuzan dan penduduk Hurmuzan menjelaskan bahwa jasad tersebut telah meninggal 300 tahun yang lalu, akan tetapi jasadnya masih utuh dan tidak membusuk sedikit pun. Lalu Abu Musa Al-Asy’ariy mengirim surat kepada Umar bin Khattab sebagai khalifah saat itu. Umar bin Khattab menjelaskan bahwa itu adalah jasad nabi Daniel dan memerintahkan untuk menyembunyikan kuburnya. Diriwayatkan oleh Ibu Abi Syaibah dengan dari sahabat Anas عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُمْ لَمَّا فَتَحُوا تُسْتَرَ قَالَ ” فَوَجَدَ رَجُلًا أَنْفُهُ ذِرَاعٌ فِي التَّابُوتِ , كَانُوا يَسْتَظْهِرُونَ وَيَسْتَمْطِرُونَ بِهِ , فَكَتَبَ أَبُو مُوسَى إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِذَلِكَ , فَكَتَبَ عُمَرُ إِنَّ هَذَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالنَّارُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , وَالْأَرْضُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , فَكَتَبَ أَنِ انْظُرْ أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ يَعْنِي أَصْحَابَ أَبِي مُوسَى فَادْفِنُوهُ فِي مَكَانٍ لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ غَيْرُكُمَا قَالَ فَذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو مُوسَى فَدَفَنَّاهُ Artinya, “Tatkala mereka Abu Musa Al-Asy’Ariy menaklukan tustur, mereka menemukan jasad seseorang yang hidungnya panjang. Penduduk Hurmuzan ber-isti’anah minta bantuan dan meminta hujan dengan perantara jasad tersebut. Abu Musa segera menulis surat kepada Umar bin Khattab. Umar membalas surat Sesungguhnya ini jasad tersebut adalah nabi di antara para nabi. Api tidak akan membakar jasad para Nabi dan bumi tidak akan merusaknya. Hendaklah engkau dan salah seorang sahabatmu menguburkannya di tempat yang tidak ada serorang pun yang mengetahuinya kecuali kalian berdua’. Kemudian aku dan Abu Musa pergi untuk menguburkannya.” Cara menyembunyikan kubur beliau dengan cara para sahabat mengali 13 lubang kubur di sungai airnya dibendung sementara lalu menguburkannya pada salah satu lubang di malam hari sehingga tidak ada yang mengetahui di mana kubur beliau. Tujuan Kahlifah Umar menyembunyikan jasad dari Nabi Daniel karena di khawatirkan akan membuat manusia terjatuh dalam kesyirikan yang merupakan dosa paling besar dan paling dilarang dalam agama. Islam adalah agama yang memiliki kelanjutan dari agama sebelumnya yakni Yahudi dan Nasrani. Islam tetap menghormati dan meyakini para Nabi dan Rasul terdahulu.
Dari ribuan nabi yang diturunkan Allah Swt, terdapat salah satu nabi yang kisahnya cukup menarik. Dialah Nabi Daniel yang diturunkan untuk membimbing kaum Bani Israil. Akan tetapi, makamnya harus disembunyikan dari semua orang untuk mencegah kemusyrikan. Dikisahkan, Nabi Daniel gugur dalam perjuangan jihadnya melawan bangsa Tartar di daerah Hurmuzan. Akan tetapi, jasad Nabi Daniel baru ditemukan 300 tahun kemudian oleh sahabat Abu Musa Al-Asy'ari di Baitul Mal, Hurmuzan. Uniknya, meski Nabi Daniel telah meninggal selama ratusan tahun, jasadnya sama sekali tidak rusak dan tidak membusuk sedikit pun sehingga dapat langsung diidentifikasi. Adalah Abu Musa Al-Asy'ari yang ketika menemukan jasad tersebut langsung mengirim sebuah surat kepada sahabat Umar bin Khattab yang waktu itu menjadi khalifah. baca juga Pimpinan KPK Benarkan Eks Wali Kota Cimahi Jadi Tersangka Lagi 5 Fakta Juru Bahasa Isyarat Winda Utami, Bekerja Sambil Berjoget Lagu Ojo Dibandingke Anies Klaim 85 Persen Rumah Tinggal di Jakarta Bebas Pajak Mendapat kabar penemuan jasad dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari, Umar bin Khattab lantas membalasnya dan memerintahkan agar jasad itu disembunyikan dari orang-orang. Ibnu Taimiyyah menjelaskan balasan surat Umar bin Khattab itu, "Pada siang hari, galilah 13 lubang kubur kemudian makamkanlah pada malam hari di salah satu lubang tersebut. Sembunyikan kuburannya agar tidak menimbulkan fitnah disembah-sembah dan dikeramatkan oleh manusia.” Kisah ini juga diriwayatkan oleh Ibu Abi Syaibah dari sahabat Anas, "Tatkala mereka Abu Musa Al-Asy’ari menaklukan Tustur, mereka menemukan jasad seseorang yang hidungnya panjang. Penduduk Hurmuzan beristi'anah meminta bantuan dan meminta hujan dengan perantara jasad tersebut. Abu Musa pun segera menulis surat yang ditujukan kepada sahabat Umar bin Khattab. Umar lantas membalas surat tersebut, "Sesungguhnya jasad itu adalah nabi di antara para nabi. Api tidak akan membakar jasad para nabi dan bumi tidak akan merusaknya. Hendaklah engkau dan salah seorang sahabatmu menguburkannya di tempat yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali kalian berdua." Kemudian aku dan Abu Musa Al-Asy’ari pergi untuk menguburkannya.” HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih Sementara itu, Ibnu Katsir mengatakan bahwa jasad yang ditemukan itu jelas Nabi Daniel. Hal itu dibuktikan dari waktu kematian dan kabar mengenai kapan masa hidupnya. Dalam Al-Bidayah Wan Nihayah dikatakan oleh Ibnu Katsir, "Waktunya perkiraan lamanya meninggal dekat dengan waktu kehidupan Nabi Daniel. Jika begitu, bisa dipastikan itu adalah Nabi Daniel karena sesuai dengan perkiraannya lama meninggal dan waktu ditemukan jasadnya." Sedangkan dalam riwayat lain, Al-Baihaqi berkata, "Dari Khalid bin Dinar dari Abu 'Aliyah, "Aku berkata kepada Abu Aliyah, Apa yang kalian lakukan pada jasad Nabi tersebut?’. Abu 'Aliyah menjawab, 'Kami menggali kubur di sungai airnya dibendung dahulu sebanyak 13 lubang kubur yang terpisah-pisah. Ketika malam hari, kami menguburkannya dan kami ratakan semua kubur tersebut agar orang-orang tidak mengetahui dan tidak menggalinya kembali." Wallahu a'lam.[]
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahasa kisah Nabi Isa alaihissalam yang merupakan sosok yang kontroversial di antara umat manusia di alam semesta ini antara umat Islam, umat Nasrani, dan Yahudi. Orang Islam menganggap Nabi Isa alaihissalam sebagai seorang nabi yang mulia, bukan tuhan dan bukan pula anak tuhan, adapun orang-orang yahudi menganggap bahwa Nabi Isa alaihssalam adalah anak hasil zina dan mereka mengaku telah membunuh Nabi Isa alaihssalam dengan menyalibnya. Adapun orang Nasrani menganggap Nabi Isa alaihissalam sebagai anak tuhan atau sebagai tuhan itu sendiri. Maka pendapat yang benar adalah pendapat orang-orang Islam sebagaimana dituturkan oleh Allah dalam Al-Quran Al-Karim. Kita akan membawakan kisah Nabi Isa alaihisssalam dari Al-Quran. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di atas alam semesta.” Qs. Ali Imran 33 Nabi Adam alaihissalam adalah Abul Basyar nenek moyang manusia, dan nabi Nuh alaihissalam disebut sebagai Abul Basyar ats-Tsani nenek moyang manusia yang kedua[1] karena pada zaman nabi Nuh alaihissalam seluruh manusia ditenggelamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, kecuali pengikut nabi Nuh yang berjumlah sekitar 80 orang[2]. Dan kemudian tidak ada keturunan yang berlanjut dari mereka kecuali dari anak-anak nabi Nuh alaihissalam. Dalam ayat ini Allah menyebutkan bagaimana Allah memuliakan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Imran adalah salah seorang alim dari kalangan rahib Bani Israil[3] dan juga pemimpin para rahib yang mengurus baitul Maqdis. Beliau memiliki seorang istri yang disebutkan oleh ahli sejarah bahwa sebelumnya dia adalah orang yang mandul. Namun akhirnya dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa ingin memiliki anak laki-laki dan bernazar bahwa anaknya kelak akan berkhidmat sepenuhnya untuk Masjidil Aqsha[4]. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Ingatlah, ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepadaMu, apa janin yang ada dalam kandunganku kelak menjadi hamba yang mengabdi kepadaMu, maka terimalah nazar itu dariku. Sungguh, engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Qs. Ali Imran 35 Sebelumnya tidak diketahui apakah di dalam perutnya tersebut anak laki-laki atau perempuan. Dan dia telah bernazar kalau anaknya laki-laki akan dijadikan pengurus Masjidil Aqsha. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Maka ketika melahirkan, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan.” Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku memohon perlindungan–Mu untuknya dan anak cucunya dari ganguan setan yang terkutuk.” Qs. Ali Imran 36 Tatkala telah melahirkan, ternyata anak yang dilahirkan adalah perempuan yaitu Maryam yang kelak menjadi ibu dari Nabi Isa alaihissalam. Nama Maryam menurut bahasa mereka adalah Aabidah yaitu wanita yang rajin beribadah, atau dalam kata lain bermakna Khadimah yaitu berkhidmah yang maksudnya adalah berkhidmah di Masjidil Aqsha[5]. Maka kemudian tatkala Nabi Isa alaihissalam lahir, beliau tidak menangis sebagaimana anak-anak pada umumnya karena tidak diganggu oleh syaithan. Hal ini dikarenakan doa dari neneknya yaitu istri dari Imran yang berdoa kepada Allah perlindungan untuk Maryam dan keturunannya[6]. Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman, فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا “Maka Tuhannya menerimanya sebagai nazar dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya…” Qs. Ali Imran 37 Ketika Maryam lahir, dengan segera ibunya membawanya kepada para rahib pendeta yang ada di Masjidl Aqsha untuk dirawat. Ternyata mereka para rahib saling rebutan untuk merawat Maryam, karena mereka merasa bangga bahwa yang dirawat adalah putri dari pimpinan mereka yaitu Imran, yang di mana kalau mereka hendak berkurban kepada tuhan melalui Imran. Akhirnya Nabi Zakaria alaihissalam menganggap bahwa dia lebih utama merawat Maryam karena dia adalah pamannya. Diketahui bahwa istri Nabi Zakaria alaihissalam adalah saudari dari istrinya Imran. Akan tetapi para pendeta tetap tidak terima dan akhirnya dilakukan undian untuk memutuskan siapa yang berhak merawat Maryam[7]. Kemudian setelah diundi, keluar nama Nabi Zakaria alaihissalam sebagaimana firman Allah Subahanahu wa ta’ala, ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu ya Muhammad; padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka untuk mengundi siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” Qs. Ali Imran 44 Maka mulailah Maryam tumbuh besar sampai akhirnya menjadi wanita yang dewasa di bawah pengasuhan Nabi Zakaria alaihissalam. Tatkala telah dewasa, dia Maryam membuat sebuah mihrab kamar khusus di Masjidil Aqsha yang digunakan untuk fokus ibadah. Maka nabi Zakaria terus merawat Maryam dan membawakan makan, karena memang Maryam telah dinazarkan untuk beribadah kepada Allah dan tidak memiliki kesibukan yang lain. Maka jadilah Maryam wanita yang terkenal di kalangan Bani Israil sebagai wanita yang salihah yang ibunya menazarkan dirinya untuk berkhidmat untuk Masjidil Aqsha. Nabi Zakaria alaihissalam tidak memiliki anak, dia pun sudah tua dan istrinya mandul, maka dari itu dia senang untuk merawat Maryam. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, …كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يا مريم أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ “…Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Maryam menjawab “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” Qs. Ali Imran 37 Disebutkan oleh ahli tafsir bahwa Nabi Zakaria alaihissalam heran dengan kejadian yang dialaminya. Pertama, makanan yang tiba-tiba ada dalam ruangan Maryam, sedangkan tidak ada yang mengantar makanan selain dia karena dia yang bertanggung jawab untuk merawat Maryam. Kedua, ketika musim panas terdapat buah-buahan yang hanya tumbuh di musim dingin, dan ketika musim dingin, terdapat buah-buahan yang hanya tumbuh pada musim panas. [8] Maka dari sinilah Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” QS. Ali Imran 38 Sebelum peristiwa ini, ternyata Nabi Zakaria telah putus asa dan tidak pernah berdoa untuk memiliki anak karena alasan sadar diri bahwa dirinya sudah tua dan istrinya pun mandul. Akan tetapi ketika melihat keajaiban yang dialami oleh Maryam[9], maka Nabi Zakaria memberanikan diri meminta anak kepada Allah yang diabadikan di awal surah Maryam yang kemudian Allah kabulkan dan istrinya melahirkan Nabi Yahya, قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا “Ia Zakaria berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera“. QS. Maryam 4-5 Akhirnya Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan permintaan nabi Zakaria. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, يا زكريا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا “Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan kehadiran seorang anak yang Bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” QS. Maryam 7 قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا “Zakaria berkata “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku sendiri sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua“. QS. Maryam 8 Setelah kejadian tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala ingin memberikan kemuliaan kepada Maryam dengan memberikan seorang anak tanpa ayah. Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan kisah bagaimana Maryam mengandung dan ujian yang dia alami. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا 16 فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا “Dan ceritakanlah kisah Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur Masjidil Aqsha. Maka ia mengadakan tabir yang melindunginya dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.” QS. Maryam 16-17 Maka setelah Maryam menjauh ke arah timur untuk konsentrasi beribadah, Allah mengujinya dengan kehadiran malaikat Jibril yang menjelma menjadi seorang laki-laki yang Sawiyya’. Sawiyya maknanya adalah sempurna atau sangat tampan. Maka kemudian Maryam terkejut dengan kehadiran laki-laki yang sangat tampan di hadapannya, padahal dia telah membuat hijab. Maryam pun mengira bahwa Jibril yang menjelma sebagai laki-laki yang tampan akan berbuat jahat terhadapnya[10], maka dengan segera Maryam berkata, قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا “Maryam berkata “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa“. QS. Maryam 18 Lihatlah, seorang wanita yang digoda oleh lelaki tampan, di tempat yang jauh dari penglihatan orang-orang, dan ini menjadi godaan yang berat bagi Maryam, maka langsung dia berlindung kepada Allah. Maryam menyangka lelaki tersebut hendak merayunya dan melakukan keburukan. Kemudian Maryam mengingatkan kepada orang tersebut untuk bertakwa kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Maryam adalah wanita yang suci sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala, وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا “dan ingatlah Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya kemaluannya…” QS. At-Tahrim 12 Maka jelaslah bahwa Maryam adalah wanita yang suci, tidak sebagaimana tuduhan orang-orang Yahudi bahwa Maryam adalah wanita yang berzina dengan tukang kayu sehingga lahirlah Nabi Isa alaihissalam[11]. Maka tatkala Maryam digoda, dia segera berlindung kepada Allah dan mengingatkan laki-laki tersebut untuk bertakwa kepada Allah. Maka berkatalah Jibril alaihissalam, قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا “Ia Jibril berkata “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci” QS. Maryam 19 Maka Maryam semakin terkejut dan berkata, قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا “Maryam berkata “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina!“. QS. Maryam 20 Penyataan Maryam ini adalah benar, karena tidak mungkin seorang wanita bisa memiliki anak kecuali dengan dua jalan tersebut, yaitu telah disentuh laki-laki atau dia sebagai wanita pezina yang hamil di luar nikah. Dan kalimat wa lam yamsasnii basyar tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku merupakan kalimat yang indah dalam Al Quran. Maka Maryam mempertanyakan bagaimana bisa dia memiliki seorang anak sedangkan dia tidak pernah melakukan dua hal tersebut. Maka malaikat Jibril menjawab قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا “Jibril berkata “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan” QS. Maryam 21 Maka Maryam pun bingung apa yang harus dilakukannya. Dia dikenal sebagai wanita salihah, yang kalau pulang ke kampung dan mengandung maka akan banyak cacian orang. Meskipun dia mendatangkan seratus orang saksi, tidak akan ada yang percaya bahwa dia hamil tanpa disentuh laki-laki. Maka pasti berat kejiwaan dan psikologi Maryam pada waktu itu. Tatkala dia mengandung, dia mengasingkan diri karena takut kalau orang lain tahu bahwa dia dalam kondisi hamil, sementara dia dikenal sebagai wanita yang salihah. Inilah ujian yang amat besar bagi Maryam. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan kondisi tatkala Maryam mengandung nabi Isa alaihissalam, فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَالَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia bersandar pada pangkal pohon kurma, dia berkata “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan“. QS. Maryam 22-23 Maryam kemudian mengasingkan diri ke tempat yang lebih jauh. Tatkala dia hendak melahirkan, ahli tafsir menyebutkan bahwa terkumpul pada Maryam tiga kesulitan rasa sakit, yaitu rasa sakit untuk melahirkan, lapar dan haus. Maka terpaksa dia mencari sesuatu untuk dimakan, sementara dia sudah sangat kesakitan untuk melahirkan. Ujian yang berat tersebut membuat Maryam berangan-angan untuk meninggal sebelum mendapatkan ujian seperti ini. Sedangkan Allah telah berfirman “wa kaana amran maqdhiyaa“, dan itu adalah perkara yang sudah di tetapkan. Sedangkan Maryam tidak bisa memilih. Maka ditengah-tengah rasa sakit dan angan-angannya itu, ada suara yang berseru kepada Maryam, فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا… “Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu…” QS. Maryam 24-26 Al Quran menjelaskan bahwasanya Maryam melahirkan saat musim panas. Dan ayat ini dijadikan oleh para ulama sebagai dalilnya, karena ruthab tidaklah muncul kecuali pada musim panas. Nabi Isa alaihissalam tidak lahir pada musim dingin sebagaimana yang diyakini oleh orang nasrani bahwa Isa alaihissalam lahir pada 25 Desember, tepatnya musim salju. Hal ini pun juga disebutkan dalam Injil Lukas 26-11. Injil juga menceritakan tentang proses kelahiran nabi Isa alaihissalam. “26 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 27 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. 28 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam… dst” lukas. 26-11 Di dalam Injil disebutkan, Maryam melahirkan dalam kondisi para pengembala menjaga gembalaan mereka di waktu malam di padang. Kata para ulama hal ini tidak mungkin dilakukan di musim dingin, karena gembalaan hanya diletakkan di kandang ketika musim dingin dan diletakkan di padang pada saat musim panas. Maka yang benar adalah Nabi Isa alaihissalam lahir di musim panas dan bukan di musim dingin. Pelajaran lain dari ayat tersebut bagi kita adalah, Allah mengajarkan kepada Maryam untuk melakukan suatu sebab walaupun sedikit. Ketika Maryam dalam kondisi sangat lemah, dia tidak akan bisa membuat pohon kurma itu bergoyang apalagi sampai jatuh buah-buahnya. Orang kuat sekalipun ketika menggoyangkan akar pohon kurma tidak akan bisa membuat pohon kurma bergoyang. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan Maryam untuk melakukan sebab dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Maka terkadang di antara kita ada yang melakukan sebab kecil, akan tetapi hasilnya di luar dugaan karena Allah yang mengatur. Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman, فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini“. QS. Maryam 26 Maryam kemudian makan dari ruthab tesebut, dan minum dari air yang mengalir, maka lahirlah Nabi Isa alaihissalam. Maka lepaslah kesulitan yang dialami oleh Maryam setelah melihat anaknya yang dicintai yang lahir tanpa ayah. Setelah itu Allah memerintahkan Maryam untuk tidak berbicara kepada siapapun. Karena tidak akan mungkin Maryam bisa menjelaskan keanehan yang dialaminya kepada masyarakat karena akal dan nalar mereka tidak bisa menerima. Jika Maryam berbicara maka akan jadi hal yang sia-sia. Kemudian Allah menjelaskan bagaimana ujian yang dhadapi Maryam setelah melahirkan, فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يا مريم لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا يا أخت هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” QS. Maryam 2728 Ketika Maryam pulang bersama Nabi Isa alaihissalam dalam gendongannya dan telah sampai di kampungnya, orang-orang yang melihatnya kemudian mulai mengingkari dan menanyakan perkara yang dialaminya. Sampai mengaitkan dengan orang tuanya yang juga saleh. Dalam hal ini pepatah orang Indonesia yang menyebutkan bahwa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” itu ada benarnya. Karena anak-anak tumbuh berkembang akibat didikan orang tua, dan pengaruh orang tua sangatlah besar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [12][ HR. Bukhari] Sedangkan pepatah Arab mengatakan, مَنْ شَابَهَ اَبَاهُ فَمَا ظَلَمْ “Barang siapa yang menyerupai ayahnya, maka dia tidak berbuat zalim.” [13] Maka pada umumnya akhlak anak tidak jauh dari akhlak orang tua. meskipun hal ini juga tidak selalu demikian. Akan tetapi Maryam mirip seperti ayahnya yang saleh. Maryam pun tidak bisa menjawab karena telah bernazar untuk tidak berbicara sama siapa pun. Kemudian Maryam memberikan isyarat, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا “Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?“. QS. Maryam 29 Maryam pun dianggap aneh karena orang-orang yang bertanya disuruh berbicara dengan anak bayi. Maka bagaimanakah kira-kira kondisi psikologis Maryam saat itu? Sampai disebutkan sebelumnya bahwa Maryam berangan-angan untuk mati sebelum datangnya ujian yang berat ini karena takut tidak dapat menghadapi perkataan manusia tentang dirinya. Akan tetapi Allah mengetahui bahwa Maryam mampu melalui ujian yang berat ini. Tiba-tiba nabi Isa alaihissalam berbicara, قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا “Berkata Isa “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab Injil dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” QS. Maryam 30-33 Perkataan nabi Isa alaihissalam dalam ayat ini menunjukkan bahwa beliau bukanlah anak tuhan melainkan hamba Allah Subhanahu wa ta’ala. Dari ayat ini pula nabi Isa alahissalam kelak menjadi seorang guru yang mengajarkan ilmu di mana saja dia berada, makanya disebutkan bahwa dia diberkahi. Maka di antara mukjizat nabi Isa alaihissalam adalah dapat berbicara ketika masih bayi. Dan Mukjizat ini menurut pendapat Ibnul Qayyim bahwa penyebutan mukjizat ini hanya ada di dalam Al-Quran dan tidak termaktub di dalam Injil[14]. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran memuliakan nabi Isa alaihissalam lebih dari pada Injil. Dan Allah sering menyebutkan penyebutan nabi Isa alaissalam dengan sebutan “Wahai Isa putra Maryam“. Kemudian pendapat ulama menyebutkan bahwa nabi Isa alaihissalam tidak berbicara terus tatkala itu. Nabi Isa alaihissalam dijadikan oleh Allah bisa berbicara sebentar saja hanya untuk menghilangkan tuduhan orang-orang terhadap Maryam Ibunya sebagai wanita pezina. Oleh karenanya menurut pendapat yang kuat dan pendapat tersebut dipilih oleh Asy-Syaukani dan yang lainnya bahwa nabi Isa alaihissalam belum menjadi nabi sejak kecil[15]. Maksud perkataan nabi Isa alaihissalam adalah kelak dia akan diangkat menjadi nabi, diberikan Injil, dan diberkahi sehingga bisa mengajari masyarakat di manapun berada. Nabi Isa alaihissalam menyebutkan sifat-sifat seorang rasul tatkala Allah karuniakan beliau berbicara di waktu kecil. Di antaranya adalah beliau berkata bahwa dia hamba Allah dan kelak akan memiliki Alkitab. Maka ini juga merupakan dalil bahwa nabi Isa alaihissalam bukanlah tuhan. Karena jika tuduhan terhadap nabi Isa alaihissalam adalah tuhan, maka seharusnya tidak perlu bagi seorang tuhan untuk membawa Alkitab dan bisa berfirman secara langsung kepada makhluknya. Kemudian nabi Isa alaihissalam juga menyebutkan bahwa dirinya memiliki sifat-sifat kemanusiaan yaitu dia shalat, sujud, berdoa, dan bayar zakat. Maka jika anggapan bahwa nabi Isa alaihissalam adalah tuhan itu benar, maka kepada siapakah dia beribadah? Dalam ayat tersebut disebutkan pula bahwa nabi Isa alaihissalam diberikan keselamatan tatkala beliau lahir maupun meninggal, dan tatkala beliau dibangkitkan. Ketahuilah bahwa keselamatan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah tentang selamat atas kelahirannya. Akan tetapi orang-orang liberal menjadikan potongan ayat tersebut sebagai dalil bahwa karena Allah menyebutkan keselamatan atas kelahiran nabi Isa alaihissalam, maka boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal kepada orang-orang Nasrani. Padahal keselamatan yang dimaksud pada ayat tersebut bukanlah ucapan selamat sebagaimana dalam artian bahasa Indonesia, melainkan keselamatan atas gangguan syaithan ketika nabi Isa alaihissalam lahir[16]. Sebagaimana doa dari ibunya Maryam yang memohonkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala perlindungan untuk Maryam dan keturunannya dari syaithan. Yang terdapat dalam Injil Lukas, Yohanes, dan yang lainnya adalah disebutkannya silsilah atau nasab nabi Isa alaihissalam. Disebutkan bahwasanya nabi Isa alaihissalam lahir dari Maryam yang memiliki suami bernama Yusuf An-Najjar yang memiliki nasab sampai kepada nabi Daud alaihissalam[17]. Sedangkan dalam agama Islam meyakini bahwa nabi Isa alaihissalam lahir tanpa ayah dan tidak memiliki hubungan dengan Yusuf An-Najjar, apalagi menikah dan punya anak darinya. Akan tetapi anehnya di dalam Injil disebutkan nasab nabi Isa alaihissalam, dan hal ini dibantah oleh para ulama Islam bahwa Maryam tidak menikah dengan Yusuf An-Najjar. Dan Islam memuliakan nabi Isa alaihissalam untuk menghilangkan tuduhan bahwa Maryam berzina dan menunjukkan kehebatan nabi Isa alaihissalam bisa lahir tanpa ayah, sedangkan dalam Injil menyebutkan memiliki ayah. Dan ternyata nasab yang disebutkan sangat kontradiktif, di mana dalam Injil yang satu dengan yang lainnya berbeda jumlah keturunan dan berbeda kakek. Adapun bantahan lain dari para ulama, bahwa aturan dari Bani Israil tidak boleh satu sibth al-asbath menikah dengan sibth yang lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa nabi Ya’qub memiliki dua belas anak disebut sebagai Bani Israil dan juga disebut sebagai al–Asbath yang masing-masing disebut sibth. Di antaranya ada sibht Yahudza dan sibth Lawi. Maryam merupakan keturunan nabi Harun alaihissalam sampai ke Lawi, sedangkan Yusuf An-Najjar adalah keturunan nabi Daud alaihissalam yang keturunan dari Yahudza. Dalam aturan Bani Israil, dalam satu suku Sibth, tidak boleh menikah dengan suku yang lain. Maka secara aturan tidak mungkin Yusuf An-Najjar berani melamar Maryam karena secara keturunan dan sibthnya berbeda, dan hal ini memang tidak dibolehkan dalam aturan Bani Israil. Maka ini menguatkan pendapat bahwa Maryam melahirkan nabi Isa alaihissalam lahir tanpa ayah. [18] Maka Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Itu lah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya “Jadilah”, maka jadilah ia” QS. Maryam 34-35 Pada ayat ini Allah menjelaskan hakikat nabi Isa alaihissalam yang jika se-andainya Allah memiliki anak, maka anak itu harus disembah sebagaimana firman Allah Subahanahu wa ta’ala, قُلْ إِنْ كانَ لِلرَّحْمنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعابِدِينَ “Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah Muhammad orang yang mula-mula memuliakan anak itu“. QS. Az-Zukhruf 81 Sifat seorang anak harusnya mirip seperti bapaknya. Kalau nabi Isa alaihissalam merupakan anak Allah, maka harus sifatnya sama seperti sifat Allah. Adapun sifat Allah antara lain seperti tidak makan, tidak minum, tidak tidur, maha kuasa, tidak istirahat, tidak capek, tidak takut dan sifat ketuhanan yang lainnnya. Maka benar kata Allah bahwa jika dia memiliki anak, maka anak tersebut wajib diibadahi. Akan tetapi Nabi Isa alaihissalam tidak memiliki sifat tersebut yang berarti bahwa dia bukanlah anak Allah Subhanhu wa ta’ala. Adapun Nabi Isa alaihissalam yang lahir tanpa ayah tidak melazimkan bahwa dia anak tuhan. Bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan anak tanpa ayah, karena jika Allah menghendaki sesuatu tinggal berkata “Kun Fayakun“. Bahkan Allah menyebutkan kejadian yang lebih aneh dari Nabi Isa alaihissalam yaitu Nabi Adam alahissalam yang lahir tanpa ayah dan ibu. Allah berfirman, إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi AllAh, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya “Jadilah” seorang manusia, maka jadilah dia.” QS. Ali Imran 59 Sangat mudah bagi Allah untuk menciptakan Nabi Adam alaihissalam tanpa ayah dan ibu, apalagi hanya Nabi Isa alaihissalam yang sekedar tanpa ayah. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ “Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” QS. Maryam 37 Dalam ayat ini diceritakan timbul hizb kelompok di antara kaum Yahudi dan Nasrani tentang perkara Nabi Isa alaihissalam. Sebagian kaum Yahudi terpecah menjadi beberapa kelompok dan mengatakan bahwa Nabi Isa alaihissalam adalah anak zina. Sedangkan kaum Nasrani juga berkelompok-kelompok mengatakan bahwa Nabi Isa alaihissalam adalah anak tuhan, yang lain menyebutkan bahwa Isa alaihissalam adalah tuhan itu sendiri, dan yang lain mengatakan nabi Isa alaihissalam adalah satu dari yang tiga Trinitas sampai saat ini. Setelah kejadian ini, nabi Isa alaihissalam tumbuh semakin dewasa dan diangkat menjadi nabi. Akan tetapi Allah tidak sebutkan bagaimana proses pertumbuhannya dalam Al-Quran. Allah hanya menyebutkan dakwah yang dilakukan nabi Isa alaihissalam terhadap kaum Yahudi, karena mereka kaum Yahudi terjerumus dalam penyimpangan kesyirikan dengan Uzair sebagai putera Allah. Rupanya orang-orang Yahudi tidak senang dengan kehadiran nabi Isa alaihissalam. Karena Nabi Isa alaihissalam dari sibth Lawi, sedangkan orang Yahudi mengatakan bahwa nabi harus dari keturunan Daud. Orang Yahudi awalnya meyakini bahwa nabi terakhir yang diutus akan membawa kejayaan bagi kaum mereka dalam melawan kerajaan Romawi. Akan tetapi dakwah Nabi Isa tidak mengajak untuk memberontak terhadap kerajaan romawi yang berkuasa pada waktu itu, melainkan dakwah nabi Isa alaihissalam adalah tentang tauhid, akhlak dan perbaikan. Nabi Isa alaihissalam juga melakukan perbaikan terhadap aturan agama mereka yahudi, Allah berfirman, وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ “dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu“QS. Ali Imran 50 Maka dari itu kaum Yahudi tidak senang dan ingin membunuh Nabi Isa alaihissalam. Kemudian orang-orang Yahudi memprovokasi kerajaan Romawi untuk menangkap Nabi Isa alaihissalam. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah bahwa banyak para nabi yang Allah berikan mukjizat kepada mereka sesuai dengan perkara yang digandrungi masyarakat pada zaman mereka. Contohnya adalah Nabi Musa alaihissalam, dimana banyak orang yang sombong dengan sihir-sihir mereka, maka nabi Musa alaihissalam diberikan mukjizat mirip dengan sihir tapi bukan sihir, yaitu tongkatnya dapat berubah menjadi ular, sehingga orang yang awalnya hendak menentang nabi Musa alaihissalam akhirnya beriman dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana juga di zaman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, masyarakat Arab jahiliyah digandrungi masalah balaghah bahasa syair-syair, dan sering diperlombakan di antara mereka. Maka nabi Shallallahu alaihi wa sallam diberikan mukjizat oleh Allah yang berkaitan dengan ketinggian bahasa yaitu dengan Al-Quran Al Karim yang bukan karangan manusia melainkan langsung dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Sehingga orang-orang yang pandai syair mendengar Al-Quran, maka mereka tahu bahwa itu bukan karangan manusia. Maka begitupun yang terjadi di zaman nabi Isa alaihissalam. Pada zaman tersebut yang banyak digandrungi masyarakat adalah masalah pengobatan. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan mukjizat kepada nabi Isa alaihissalam berupa mukjizat tentang pengobatan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil yang berkata kepada mereka “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda mukjizat dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda kebenaran kerasulanku bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” QS. Ali-Imran 49 Ini semua menjadikan mukjizat Nabi Isa alaihissalam mengungguli ilmu kedokteran pada zaman tersebut. Sehingga mulailah sebagian orang Yahudi dari Bani Israil mengikuti ajaran Nabi Isa alaihissalam. Namun sebagian kaum Yahudi yang lain tidak senang dan menentang kerasulan beliau karena Nabi Isa alaihissalam bukan dari keturunan nabi Daud alaihissalam, sedangkan mereka kaum Yahudi mengagungkan nabi Daud alaihissalam. Mereka Yahudi juga tidak percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai anak zina, dan terlebih lagi nabi Isa alaihissalam tidak berdakwah tentang politik, sehingga mereka semakin membenci nabi Isa alaihissalam. Akhirnya Yahudi melakukan tipu daya agar nabi Isa alaihissalam ditangkap dan dibunuh oleh kerajaan Romawi dengan mengatakan bahwa nabi Isa alaihissalam mengaku sebagai raja dan akan melakukan pemberontakan. Menurut versi Islam dalam Al-Quran bahwa nabi Isa alaihissalam ditangkap oleh tentara Romawi dengan bantuan orang-orang Yahudi, akan tetapi tidak disalib dan juga tidak dibunuh. Allah membantah perkataan orang-orang yahudi bahwa mereka membunuh nabi Isa alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Dan karena ucapan mereka “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. An-Nisa 157-158 Lihatlah betapa luar biasa kejamnya kaum Yahudi, tatkala ada nabi yang tidak sesuai dengan selera mereka maka akan dibunuh. Dan Allah sebutkan di antara sifat kejamnya mereka adalah suka membunuh para nabi, وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ “Dan mereka Yahudi membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar…” QS. An-Nisa 155 Inilah versi Islam dimana mereka kaum Yahudi tidak membunuh nabi Isa alaihissalam. Beliau diselamatkan oleh Allah dengan diangkat ke langit dan akan turun saat menjelang hari kiamat untuk menyelesaikan segala kontroversial tentang dirinya. Kelak nabi Isa alaihissalam akan menjelaskan tentang dirinya bahwa dia adalah rasul dan akan hidup dengan menjalankan syariat nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam kurang lebih selama tujuh tahun. Setelah itu meninggal dan dikuburkan sebagaimana nabi-nabi yang lain. Maka semakin jelaslah bahwa nabi Isa alaihissalam bukanlah tuhan dan bukan pula anak zina, akan tetapi dia adalah nabi yang dimuliakan oleh orang Islam. Adapun versi kaum Nasrani Injil itu berbeda-beda dalam menjelaskan tentang kematian nabi Isa alaihissalam. Injil Barnabas menyebutkan bahwa nabi Isa alaihissalam tatkala hendak ditangkap, maka ada orang yang diserupakan dengan nabi Isa alaihissalam yang dikenal dengan Yahudza Iskariot Judas Iscariot. Terdapat cerita dengan beberapa versi dalam beberapa kitab Injil, akan tetapi ada Injil yang diakui dan Injil yang tidak diakui. Injil Barnabas adalah salah satu yang tidak diakui. Kalau diperhatikan, Injil tidak seperti Al-Quran. Injil modelnya seperti hadits bagi orang Islam yang dimana pernyataannya bukan langsung dari Allah seperti Al-Quran. Maka dari sini menunjukkan bahwa Injil bukan lagi murni firman Allah akan tetapi sudah mengalami perubahan, karena tatacara penyusunannya tidak seperti Al Quran yang pembicaraan langsung datang dari Allah. Cerita versi Nasrani yang diakui adalah nabi Isa alaihissalam ditangkap dan disalib untuk menebus dosa nabi Adam alaihissalam. Dan ini adalah khurafatnya orang-orang Nasrani yang mengantarkan mereka menganggap nabi Isa alaihissalam adalah anak tuhan. Dalam versi Injil intinya menyebutkan bahwa nabi Isa alaihissalam meninggal dunia dan dikuburkan. Setelah beberapa hari kemudian dia bangkit dari kubur yang dikenal sebagai hari Paskah, yaitu hari kebangkitan Isa al Masih menurut mereka. Ternyata perkara ini ternyata banyak membuat orang-orang Nasrani masuk Islam dengan suatu pertanyaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa keyakinan mereka terhadap nabi Isa alaihissalam ada tiga yaitu dia adalah anak tuhan, dia adalah tuhan, dan dia adalah satu dari yang tiga. Di Arab Saudi banyak orang Filipina masuk Islam dengan pertanyaan tersebut. Pertanyaannya adalah “Apakah Tuhan Bapa juga ikut meninggal dunia ketika nabi Isa meninggal dunia?” Jika jawaban orang-orang nasrani adalah tidak’, maka perkara selesai dan membuktikan bahwa nabi Isa bukanlah tuhan. Akan tetapi ketika mereka menjawab ya’ maka itupun akan membuat mereka bingung bahwa siapakah yang mengatur alam semesta jika Tuhan Bapa juga meninggal dunia ketika itu. Sedikit kita jelaskan tentang khurafat mereka, bahwa kaum Nasrani memiliki keyakinan bahwa tatkala nabi Adam alaihissalam memakan buah khuldi maka dia berdosa. Tatkala nabi Adam alaihissalam diturunkan ke dunia, mereka menganggap dosanya nabi Adam alaihissalam masih ada dan menjadi dosa turunan. Sehingga anak yang lahir dari keturunan Adam alaihissalaam itu membawa dosa warisan. Adapun Islam tidak meyakini demikian karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى “Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. QS. Al-Isra’ 15 Islam meyakini bahwa setiap anak yang baru lahir itu bersih dari dosa. Sebagaimana sabda nabi Shallallahu alaihi wa sallam, مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji karena Allah dengan tidak melakukan rafats dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan tanpa memiliki dosa dari kandungan ibunya.” [19] Kemudian khurafat orang Nasrani tersebut dosa warisan akan terus ada pada seluruh anak keturunan nabi Adam alaihissalam. Dosa tersebut tidak dapat dihapuskan kecuali dengan yang suci. Sedangkan seluruh manusia tidak ada yang suci karena semua merupakan anak keturunan Adam alaihissalam. Yang suci dalam keyakinan mereka hanyalah Allah, dan sebagian mereka mengatakan bahwa jika Allah hendak turun ke bumi harus menjelma menjadi manusia atau mengirim anaknya. Sehingga menurut mereka Allah harus menjelma dalam bentuk bayi dalam perut Maryam agar lahir dari dzat yang suci dan tidak ada dosa warisan. Sehingga mereka mengatakan nabi Isa alaihissalam adalah Allah, dan Allah adalah Isa alaihissalam. سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا “Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” QS. Al-Isra’ 43 Akhirnya mereka mengambil Nabi Isa alaihissalam sebagai anak tuhan untuk menebus dosa warisan tersebut dengan cara disalib. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau memang nabi Isa alaihissalam diutus untuk disalib dan menghapuskan dosa warisan tersebut, kenapa di dalam Injil disebutkan bahwa nabi Isa alaihissalam ketakutan, gelisah dan sembunyi tatkala tentara romawi datang? Bukankah seharusnya nabi Isa alaihissalam menyerahkan diri? Jika anggapan mereka kemudian menyebutkan bahwa Allah harus menjelma menjadi nabi Isa alaihissalam dalam perut Maryam, pertanyaan selanjutnya adalah bukankah Maryam sebelumnya juga memiliki dosa keturunan? Kalau aturan mereka sebelumnya menyebutkan bahwa penebusan dosa warisan tersebut harus dari sesuatu yang suci, maka tentunya hal ini keluar dari logika mereka, karena Maryam tidak suci karena juga mengandung dosa warisan. Mereka menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa Maryam telah disucikan sebelumnya oleh Allah. Ketahuilah bahwa logika mereka ini sangatlah tidak wajar, karena jika dengan mudah dosa keturunan bisa disucikan terhadap Maryam, maka kepada orang lain pun seharusnya mudah untuk disucikan. Dan tidak perlu Allah bersusah payah menjelma menjadi manusia yang kemudian dibunuh untuk menghapuskan dosa turunan tersebut. Kemudian kalau memang nabi Isa telah menebus dosa yang mereka maksud, maka kita bisa kembali menanyakan bahwa apakah dosa yang dihapuskan adalah dosa turunan semata atau dosa keseluruhan? Jika mereka menjawab seluruh dosa di hapuskan, maka tentu hal itu hanya bermanfaat untuk orang-orang yang memiliki dosa sebelum nabi Isa terbunuh, dan dosa orang setelahnya tidak terampuni, juga akan ada anggapan bahwa orang-orang akan bebas berbuat maksiat. Tentunya mereka tidak akan berani mengatakan hal demikian. Adapun jika mereka mengatakan bahwa dosa yang terampuni hanya dosa warisan, maka kita bisa membantah perkataan mereka dengan membandingkan dosa yang disebabkan oleh memakan buah dibandingkan dosa zina, mencuri, LGBT dan dosa berat yang lainnya. Maka tidak akan bermanfaat dosa kecil tersebut menjadi persoalan besar untuk diampuni, sedangkan ada dosa yang lebih besar dari itu yang pernah manusia lakukan yang seharusnya lebih layak untuk diampuni. Kemudian khurafat lain mereka adalah bahwa seseorang akan masuk surga dengan meyakini bahwa nabi Isa adalah penebus dosa turunan tersebut. Maka seharusnya ketika nabi Isa telah menebus dosa keturunan tersebut, orang yang beriman maupun tidak beriman dengan keyakinan ini akan tetap bisa masuk surga karena sejak awal telah diampuni dosanya. Maka orang Islam yang tidak beriman terhadap itu pun tidak menjadi masalah karena dosa turunan telah diampuni. Inilah semua adalah khurafat orang Nasrani yang menimbulkan pernyataan bahwa nabi Isa alaihissalam adalah tuhan. Padahal nabi-nabi terdahulu tidak pernah menceritakan khurafat tersebut. Maka janganlah kita terperdaya dengan banyaknya jumlah orang-orang Nasrani, meskipun kita umat Islam jumlahnya lebih sedikit dari mereka, akan tetapi agama mereka dibangun di atas khurafat-khurafat. Dari beberapa literatur didapati bahwa seluruh cerita khurafat ini ternyata datang dari orang yang bernama Paulus. Dalam Injil disebutkan ada Risalatur Rosul Surat Paulus. Siapakah Paulus ini? Paulus bukanlah murid dari nabi Isa alaihissalam, bukan juga murid dari muridnya nabi Isa alaihissalam, akan tetapi dia adalah seorang Yahudi yang memusuhi Bani Israil, bahkan dia adalah orang yang paling benci dengan pengikut nabi Isa alaihissalam. Dalam risalahnya disebutkan bahwa dia sering menyiksa pengikut nabi Isa alaihissalam. Diceritakan bahwa suatu hari dia hendak keluar dengan tujuan menyiksa para pengikut nabi Isa alaihissalam, tiba-tiba tuhan Yesus mengangkatnya menjadi seorang rasul. Logika dia Paulus mengatakan bahwa agar dia bisa menjadi rasul, maka Yesus harus menjadi tuhan. Sementara para hawariyyin penolong nabi Isa alaihissalam tidak ada yang menganggap dirinya sebagai rasul. Dan anehnya bahwa dia Paulus diangkat jadi nabi padahal sebelumnya dia adalah penjahat. Dari seluruh kisah para nabi, tidak ada sejarah bahwa seorang penjahat diangkat jadi nabi. Salah satu kisah yaitu nabi Yusuf alaihissalam disebutkan diangkat menjadi seorang nabi karena dia dahulunya orang yang baik. Maka ini semua sangat tidak masuk akal. Maka segala puji bagi Allah atas nikmat Islam, nikmat akidah yang membuat kita tidak menyembah manusia, nabi, malaikat ataupun jin, dan yang kita sembah hanyalah Allah, Tuhan alam semesta. Karena ketahuilah bahwa orang-orang Nasrani dengan keyakinannya yang salah tersebut memiliki IQ yang tinggi dari kebanyakan kita umat Islam, juga mendapatkan kelebihan dari segi materi dan fisik. Akan tetapi kita harus mensyukuri nikmat Allah atas hidayah Islam meskipun kita kurang dari sisi lain mereka, karena nikmat hidayah tersebut Allah tidak berikan kepada sembarang orang. Jadi dalam keyakinan umat Islam dan ini adalah keyakinan yang benar, bahwa nabi Isa alaihissalam tidak meninggal juga tidak disalib, akan tetapi diangkat ke arah Allah langit. Maka ada pendapat yang menyebutkan bahwa nabi Isa alaihissalam berada di langit ke dua karena bersiap untuk turun ke bumi menjelang hari kiamat. Kelak ketika telah datang Imam Mahdi dan munculnya Dajjal, barulah nabi Isa alaihissalam turun untuk membunuh dajjal, dan setelah itu akan tegaklah hari kiamat. Inilah kisah singkat tentang nabi Isa alaihissalam, semoga bermanfaat. Footnote ____________________ [1] Lihat Al-Bahrul Muhit 7/556 [2] Lihat Tafsir Ath-Thobari 15/326 [3] Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir 3/231 [4] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 4/66 [5] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 4/68 [6] Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ» ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ} [آل عمران 36] “Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya hingga ia menangis keras karena sentuhan tersebut, kecuali Ibnu Maryam Isa dan ibunya.” Kemudian Abu Hurairah berkata Jika kalian mau bacalah ayat ini “INNII U’IIDZUHAA BIKA WA DZURRIYYATAHAA MINAS SYAITHOONIR ROJIM Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” HR. Muslim no 2366 dan Tafsir Al-Qurthubi 4/68 [7] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 4/86 [8] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 4/71 [9] Lihat Tafsir Ath-Thobari 6/359 [10] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 11/91 [11] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 11/105 [12] HR. Bukhori no. 1385 [13] Subhul A’syaa Fii Shinaa’atil Insyaa’ 15/621 [14] Lihat Hidayatul Hayaaroo Fii Ajwibatil Yahuudi Wan Nashooroo 2/530 [15] Lihat Fathul Qadir 3/392 [16] Lihat Tafsir Ath-Thobari 18/193 [17] Injil lukas 323 [18] Lihat Hidayatul Hayaaroo Fii Ajwibatil Yahuudi Wan Nashooroo, diteliti ulang oleh Doktor Ahmad Hijazy hal 245 [19] HR. Bukhari no. 1521
kisah nabi danial alaihissalam